White Fire Pointer skip to main | skip to sidebar

Fiqih Wudhu Wanita

Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian praktek TIK Kelas IXA(9A)
SMP N10 Tanjungpinang

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Beranda
  • Kisah Tauladan

Kamis, 06 Maret 2014

Masalah Seputar Wudhu Bagi Muslimah

Diposting oleh Fikri Dwi Arniawan di 07.57 Label: Beranda
Dalam kajian tanya jawab kali ini, kita akan membahas seputar masalah wudhu yang berkaitan dengan muslimah diantaranya membasuh kepala bagi muslimah yang rambutnya terikat, wudhu dengan memakai kerudung (biasanya sulit menemukan tempat wudhu yang tersembunyi dari keramaian orang-orang ketika bepergian), dan persentuhan muslimah dengan yang bukan mahramnya apakah ia termasuk dalam hal yang membatalkan wudhu, untuk masalah persentuhan ini biasanya terjadi secara tidak di sengaja dan sulit untuk dihindari ketika seorang muslimah berada dalam keramaian seperti ketika thawaf di ka’bah, shalat di masjid raya yang bersinggungan dengan orang banyak dan kondisi lainnya.
A. Membasuh Kepala Bagi Wanita yang Rambutnya Terikat Bagi akhwat yang berambut panjang biasanya mengikat (mengepang) rambutnya dan ketika akan berwudhu ada sebagaian diantara muslimah yang membuka ikatannya padahal tidaklah mengapa membasuh (mengusap) kepala bagi rambutnya yang terikat hal ini berdasarkan Fatwa ulama kita yang mengatakan bahwa membasujh kepala dengan rambut yang terikat tidak mengapa dan dibolehkan, namun hendaknya dia tidak mengikatnya keatas (berbentuk konde) karena mereka (para ulama) khawatir bila hal ini termasuk dalam sabda Rasulllah :

”Dan, wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang berlenggok-lenggok, mereka tidak masuk surga dan mereka tidak mendapatkan baunya sementara baunya dapat tercium dari jarak begini dan begini”(HR. Muslim)

B. Hukum Mengusap Khimar (kerudung/jilbab)

Syaikh Utsaimin ditanya: Bolehkah wanita mengusap kain penutup kepalanya (semacam jilbab)?

Beliau menjawab : Pendapat yang terkenal dalam madzhab Imam Ahmad, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa wanita dibolehkan untuk mengusap kain penutup kepalanya jika kain tersebut menutupi hingga di bawah leheya, karena hal ini telah dilakukan oleh sebagian istri-istri para sahabat. Yang jelas, jika membuka penutup kepala itu menyulitkan, akrena udara yang amat dingin atau sulit untuk membukanya kemudian harus memasangnya lagi, maka toleransi dalam hal semacam ini adalah dibolehkan, jika tidak, maka yang lebih utama adalah membuka penutup kepala itu untuk mengusap rambutnya secara langsung.

(Fatwa waa rasaail, Ibnu Utsaimin, 4/171)

Hal senada juga diucapkan oleh Ibnu Mundzir dalam kitabnya AL-Mughni 1/132 : Adapun kain penutup kepala perempuan (kerudung) maka boleh mengusapnya karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya. {Sifat Wudhu Nabi,hal. 48)

Jadi buat muslimah yang bepergian dan ingin berwudhu ditempat keramaian maka tidaklah mengapa ia membasuh /mengusap kerudungnya karena dikhawatirkan apabila ia melepas kerudungnya maka auratnya akan terlihat.

C. Hal-hal Yang Membatalkan Wudhu

Wajib bagi ukhti semua untuk mengetahui apa saja yang bisa membatalkan wudhu agar ketika shalat kondisinya dalam keadaan suci sehingga memenuhi syarat sahnya shalat. Inilah hal-hal yang termasuk membatalkan wudhu.

Pertama, Apa Yang Keluar dari kemaluan dan dubur

maka segala sesuatu yang keluar dari dua jalan ini membatalkan wudhu, baik berupa air kencing,kotoran, madzi, mani dan buang angin(kentut). Namun, jika air mani itu keluar disertai syahwat maka sebagaimana diketahui, diwajibkan untuk mandi, jika yang keluar adalah madzi maka diwaiibkan untuk mencuci kemaluan lalu berwudhu.

Kedua, Tidur yang lama

Dimana orang yang tidur tidak merasakan apa-apa bila ia berhadats (buang angin misalnya).Adapun jika tidur tersebut dalam waktu singkat dimana orang tidur dapat merasakan sendiri apabila ia berhadats maka tidur semacam ini tidaklah membatalkan wudhu dan tidak ada perbedaan antara tidur dalam keadaan terlentang atau duduk bersandar yang penting adalah kehadiran hati, jika ia dapat merasakan hadats yang terjadi (pada saat tidur) maka ini tidaklah membatalkan wudhunya. Sebaliknya bila kondisi tidur tersebut menyebabkan orang yang tidur tidak dapat merasakan sendirinkeluaya hadats maka (kondisi) tidur seperti ini mewajibkannya untuk berwudhu.Hal itu disebabkan karena tidur itu sendiri bukanlah suatu hal yang membatalkan, ia tidak lebih merupakan kondisi yang sangat memungkinkan terjadinya hadats. Maka apabila hadats itu tiada dan bila orang yang tidur dapat merasakannya jika terjadi maka tidur tidaklah membatalkan wudhu.

Ketiga, Menyentuh kemaluan

Jika seorang sengaja menyentuh kemaluannya dengan telapak tangannya tanpa ada hijab yang menghalanginya maka ia diwajibkan untuk berwudhu kembali. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: ”Barangsiapa yang dengan sengaja menyentuh kemaluannya maka ia hendaklah berwudhu kembali” (HR. Al-Hakim) dan sabda Beliau lagi dari Bushrah bin Safwan radhiyallhu anhu :

”Barangsiapa telah menyentuh dzakaya dengan sengaja maka hendaklah ia tidak mengerjakan shalat sehingga berwudhu kembali” (HR.Imam yang lima dan di shahihkan oleh Imam Tirmidzi)

Tambahan:

Diantara ibu kita (para ummahat) ada yang ketika mengganti pakaian anaknya tanpa sengaja menyentuh kemaluan sianak, apabila itu terjadi maka batallah wudhunya.Hal ini telah dijelaskan oleh Lajnah Da’imah tentang hukum menyentuh kemaluan anak kecil.Bahwa menyentuh aurat (kemaluan) tanpa pelapis adalah membatalkan wudhu, baik yang disentuh orang besar maupun anak kecil, yang didasarkan kepada sabda Nabi shalallahu alaihi wassalam: ”Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah wudhu”. Kemaluan orang lain yang disentuh sama dengan kemaluannya sendiri.(Fatwa lajnah Da’imah, 5/265 lihat 101 kekeliruan dalam Thaharah)

Keempat, Memakan Daging Onta

Jika seseorang memakan daging onta maka wudhunya batal, sebab telah diriwayatkan secara shahih dalam hadits Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah pernah ditanya, ”Apakah kami harus berwudhu dari daging kambing?” Beliau menjawab,”JIka engkau mau”. Lalu beliau ditanya lagi,”Apakah kami harus berwudhu dari daging unta?” Beliau menjawab, ”Ya”.(HR. Muslim).

Dari hadits diatas dapat difahami bagaimana rasulullah menjadikan wudhu setelah memakan daging kambing kembali pada keinginan seseorang, dan ini merupakan dalil bahwa berwudhu setelah makan daging unta tidak bergantung pada keinginan seseorang karena ia adalah sesuatu yang wajib. Berdasarkan hal ini maka apabila seseorang memakan daging unta tidak ada perbedaan antara daging berwaa merah dengan yang tidak berwaa merah, sehingga seluruh bagian daging unta yang dimakan dapat membatalkan wudhu.


D.Apakah menyentuh wanita dapat membatalkan wudhu?

pendapat yang shahih adalah bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu secara mutlak, kecuali apabila disertai syahwat.Adapun dalil terhadap masalah ini adalah apa yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah bahwa beliau pernah mencium sebagian istri-istri beliau lalu keluar untuk mengerjakan shalat tanpa berwudhu lebih dahulu.

Juga bahwa pada dasaya segala sesuatu tidaklah membatalkan wudhu hingga terdapat dalil yang shahih dan jelas yang menunjukkan bahwa ia membatalkan.Disamping itu seseorang yang telah menyempuakan thaharahnya sesuai dengan dalil syar’i tidak bisa dihapus begitu saja kecuali dengan dalil syar’i pula.

Jika dikatakan bahwa Allah berfirman:”…..atau jika kalian menyentuh wanita..”(An-Nisa:43)

Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah jima’ sebagaimana pendapat Ibnu Abbas yang diriwayatkan secara shahih. Disampin itu, dalil lain yang menunjukkan pendapat ini adalah adanya pembagian dalam ayat tersebut: pembagian thaharah bersuci menjadi thaharah ashliyyah (asal/pokok) dan badaliyah (pengganti), penggantian thaharah menjadi kubra (besar) dan sughra (kecil) serta pembagian hal-hal yang mewajibkan bersuci menjadi sugra (besar) dan sughra (kecil).

Allah Berfirman:”…Jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah…”

ini menunjukkan thaharah ashliyyah (bersuci yang pokok dan besar)

Allah berfirman:

”Dan jika kalian dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang dari kalian selesai menunaikan hajatnya atau kalian menyentuh wanita, lalu kalian tidak mendapatkan air maka hendaklah kalian bertayamum”

Firman Allah:”Bertayamumlah” menunjukkan sebagai pengganti. Kemudian firman Allah:”Atau jika salah seorang dari kalian selesai hajatnya” menjelaskan sebab sughra(kecil) yang mewajibkan untuk bersuci.Seandainya kita menafsirkan ”persentuhan” dalam ayat ini dengan ”persentuhan dengan tangan” maka berarti dalam ayat tersebut Allah telah menyebutkan dua sebab sughra(kecil) dalam bersuci dan tidak menyinggung sebab kubra(besar) dalam bersuci padahal ALlah telah menyebutkan: ”Dan jika kalian dalam keadaan junub maka bersucilah kalian” dan hal ini telah menyelisihi manhaj balaghal qur’aniyyah.

Dengan demikian, maka penafsirang yang benar terhadap ayat ”atau jika kalian menyentuh wanita” agar ayat tersebut kemudian mencakup mencakup dua sebab yang mewajibkan untuk bersuci, sebab kubra dan sebab sughra, juga menyebutkan thaharah yang sughra– berupa membasuh keempat anggota tubuh– dan thaharah yang kubra– berupa membasuh seluruh anggota badan– serta menyebutkan thaharah pengganti yaitu tayammum yang digunakan pada dua anggota tubuh (tangan dan wajah) karena thaharah kubra dan sughra memiliki persamaan dalam hal tersebut.

Berdasarkan hal ini maka pendapat yang kuat adalah : Bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu secara mutlak, kecuali (persentuhan itu) menyebabkan keluaya sesuatu. Jika yang keluar berupa air mani maka ia diwajibkan untuk mandi, dan jika yang keluar adalah madzi maka ia diwajibkan mencuci kemaluannya dan berwudhu.(1)

Begitu pula dengan Syaikh Muhammad bin Utsaimin beliau menfatwakan sama dengan diatas, beliau berkata:

”Menurut pendapat yang lebih kuat, menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak, baik dengan disertai syahwat maupun tidak, kecuali jika ada mani yang keluar darinya. Jika ada air mani yang keluar, maka dia wajib mandi. Namun, jika yang keluar madzi maka dia harus membersihkan kemaluannya lalu wudhu” (2)

Sekarang kita lanjutkan dengan batalkah wudhunya seseorang yang tanpa sengaja bersentuhan dengan orang yang bukan mahramnya. Misalnya seorang laki-laki tanpa sengaja bersentuhan dengan wanita asing, atau mungkin anda, ukhti muslimah bersentuhan dengan laki-laki lain yang bukan mahram anda. Hal ini biasanya sering terjadi ketika kita thawaf (dimasjidil haram) yang memang kondisinya selalu penuh sesak dengan manusia atau pun shalat di dua masjid tersebut, Masjidil haram dan masjid Nabawy (di Madinah) sehingga terkadang benar-benar sulit untuk menghindari ”persentuhan’ itu. Maka marilah kita simak jawaban Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta tentang permasalahan ini.

Pertanyaan:

Batalkah wudhu karena berjabatan tangan dengan wanita asing, sementara telah diketahui bahwa perbuatan ini adalah haram? dan dalam kitab-kitab fiqh kami menemukan beberapa hadits yang menyatakan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu.dan ungkapan itu bersifat umum?

Jawaban:

Yang benar menurut pendapat para ulama adalah bahwa menyentuh wanita atau berjabat tangan dengan wanita tidaklah membatalkan wudhu, baik wnaita itu orang asing atau istri atau mahram, karena pada dasaya seorang pria itu tetap dalam keadaan berwudhu (suci) hingga terdapat dalil syar’i yang menetapkan bahwa wudhu itu batal, sementara tidak ada dalam hadits shahih yang menyatakan bahwa menyentuh wnaita asing membatalkan wudhu. Sedangkan kata menyentuh dalam firman Allah:

”Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak menegrjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang dari kalian selesai menunaikan hajatnya atau kalian menyentuh wanita, lalu kalian tidak mendapatkan air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan itu”(Al-Maidah ayat 6)

Bahwa yang dimaksud dengan menyentuh diatas adalah bersetubuh, demikian pendapat yang benar diantara pendapat para ulama.


Sumber:

1.Fatwa-fatwa Muslimah, Oleh Masyayikh,darul Falah, bab Wudhu dan hal yang membatalkannya, hal:135- 136,Jakarta, 2001.

2. Fatwa-fatwa Tentang Wanita, darul Haq, Jakarta, 2001.

3. Fiqh wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Al-Kautsar,Jakarta,1999.

4. 101 Kekeliruan dalam Thaharah, Sulaiman Isa, Pustaka Al-Kautsar,Jakarta,2000.

5. Sifat Wudhu Nabi, Fahd Syuwayyib, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,2001.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kamis, 20 Februari 2014

Jibril & 12,000 Malaikat menemui Rasulullah di Bukit Qubais

Diposting oleh Fikri Dwi Arniawan di 08.18 Label: Beranda, Kisah Teladan
Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya. (Ar-R'ad 13:11)

Pada zaman jahiliah di antara beberapa orang raja ada seorang raja yang bernama raja Habib lbnu Malik di kota Syam. Orang-orang arab menggelarnya “Raihanah Quraisyin.”

Ketika Raja Habib bersama angkatan tenteranya seramai 12,000 orang singgah di Abthah, iaitu suatu tempat dekat kota Makkah maka datanglah Abu Jahal beserta pengikut pengikutnya memberikan berbagai-bagai hadiah kepada raja Habib.

Setelah itu Abu Jahal dipersilakan duduk di sebelah kanan raja Habib. Berkata raja Habib: “Wahai Abu Jahal katakan kepadaku tentang Muhammad.”

Berkata Abu Jahal: “Tuan, silalah tuan tanya tentang Muhammad itu dari Bani Hasyim.”

Raja Habib pun bertanya kepada Bani Hasyim: “Wahai Bani Hasyim, katakan pada beta tentang Muhammad itu.”

Berkata Bani Hasyim: “Sebenarnya kami telah mengenal Muhammad itu sejak dia kecil lagi, orangnya sungguh amanah dan setiap katanya benar; dia tidak akan berkata selain dari yang benar. Apabila umur Muhammad meningkat pada 40 tahun dia telah mula mencela Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang bukan datangnya dari nenek moyang kita.”

Sebaik sahaja raja Habib mendengar penjelasan dan Bani Hasyim maka dia pun berkata: “Bawa Muhammad mengadap dengan cara baik, kalau Muhammad degil maka gunakan kekerasan.

Setelah itu mereka pun mengutus salah seorang untuk menjemput Muhammad SAW. Setelah Rasulullah SAW menerima pesanan raja, baginda pun bersiap-siap untuk pergi, sementara itu Abu Bakar ra dan Siti Khadijah menangis kerana takut baginda dizalimi oleh raja tersebut.

Rasulullah SAW berkata: “Janganlah kamu berdua menangis, serahkanlah urusanku ini kepada Allah SWT.”

Kemudian Ahu Bakar ra pun mengaturkan pakaian untuk RasuIulIah SAW yang terdiri dari baju berwarna merah dan serban berwarna hitam.

Setelah Rasulullah SAW mengenakan pakaian tersebut maka baginda bersama Abu Bakar ra dan Khadijah ra pun pergi menghadap raja Habib. Setelah sampai di hadapan raja, Abu Bakar ra berdiri di sebelah kanan Rasulullah SAW sementara Siti Khadijah berdiri di belakang Rasulullah SAW.

Apabila raja Habib melihat baginda Rasulullah SAW berdiri dihadapannya maka raja Habib pun bangun memberi hormat mempersilakan Rasulullah SAW duduk di sebuah kerusi yang diperbuat dari emas. Sementara itu Siti Khadijah yang merasa cemas berdoa kepada Allah SWT: “Ya Allah, tolonglah Muhammad dan mudahkanlah dia menjawab sebarang pertanyaan.”

Sewaktu baginda duduk di hadapan raja Habib maka keluarlah cahaya memancar dari wajah baginda dan baginda duduk dengan tenang tanpa rasa takut.

Raja Habib memulakan pertanyaan: ‘Wahai Muhammad, kamu pun tahu bahawa setiap Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?”

Bersabda Rasulullah SAW: “Katakan apakah yang kamu kehendaki?”

Berkata raja Habib: Aku mahu matahari itu terbenam dan bulan pula hendaklah turun ke bumi dan kemudiannya bulan hendaklah terbelah menjadi dua, kemudian masuk di bawah baju kamu dan separuh keluar melalui lengan baju kamu yang kanan dan sebelah lagi hendaklah keluar melalui lengan baju kamu yang kiri. Setelah itu bulan itu hendaklah berkumpul menjadi satu di atas kepala kamu dan bersaksi atasmu, kemudian bulan itu hendaklah kembali ke langit dan mengeluarkan cahaya yang hersinar dan hendaklah bulan itu tenggelam. Sesudah itu hendaklah matahari yang tenggelam muncul semula dan berjalan ke tempatnya seperti mulanya.”

Setelah mendengar begitu banyak yang raja Habib kehendaki, maka baginda Rasulullah SAW pun bersabda:

Apakah kamu akan beriman kepadaku setelah aku melakukan segala apa yang kamu kehendaki?”

Berkata raja Habib: “Ya, aku akan beriman kepadamu setelah kamu dapat menyatakan segala isi hatiku.”

Abu Jahal yang sedang menyaksikan percakapan itu segera melompat ke hadapan sambil berkata: “Wahai tuanku, tuanku telah mengatakan yang cukup baik dan tepat.”

Rasulullah SAW pun keluar lalu pergi mendaki gunung Abi Qubais, kemudian baginda mengerjakan solat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT. Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril as bersama dengan 12,000 malaikat dengan memegang panah di tangan mereka.

Malaikat Jibril as berkata: “Assalamu alaika yaa Rasulullah, sesungguhnya Allah telah bersalam kepadamu dan berfirman:

“Wahai kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku akan sentiasa bersamamu di mana sahaja engkau berada dan telah tetap dalam pengetahuanKu dan berjalan di dalam qada kepastianKu di zaman azali apa-apa yang diminta oleh raja Habib bin Malik pada hari ini; pergilah kamu kepada mereka dan berikan hujjahmu dengan tepat dan jelaskan keadaanmu dan keutusanmu. Ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya raja Habib itu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan tidak mempunyai kedua mata. Dan katakan kepadanya bahawa Allah SWT telah mengembalikan kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya.”

Setelah itu Rasulullah SAW pun turun dari gunung Abi Qubais dengan rasa tenang dan rasa gembira. Malaikat Jibril as di angkasa dan para malaikat berbaris lurus dan Rasulullah SAW berdiri di maqam Ibrahim. Dan adalah saat itu matahari terbenam.

Matahari mulai seakan-akan berlari cepat, ertinya matahari cepat-cepat terbenam dan menjadi gelap gelita. Kemudian bulan terbit dengan terangnya, setelah bulan naik meninggi baginda Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan dua jari-jarinya kepada bulan itu, dan bulan seakan-akan berlari turun ke bumi dan berdiri di hadapan baginda Rasulullah SAW. Kemudian bulan itu bergerak-gerak seperti awan lalu bulan itu terbelah menjadi 2 dan bulan itu masuk di bawah baju Rasulullah SAW separuhnya keluar melalui lengan sebelah kanan baju baginda sementara yang sebelah lagi keluar melalui lengan sebelah kiri baju baginda. Kemudian bulan kembali bercantum mengeluarkan cahaya dengan terang lalu berdiri di atas kepala Rasulullah SAW dengan berkata: “Saya bersaksi bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi bahawa Muhammad itu hamba Allah dan RasulNya sesungguhnya berbahagialah orang-orang yang membenarkan engkau Muhammad dan rugilah orang-orang yang menyalahi engkau.”

Setelah bulan berkata demikian maka bulan pun kembali ke langit menjadi terang dan menghilangkan dirinya. Sebaik sahaja bulan menghilangkan dirinya maka matahari pun timbul kembali. Oleh kerana raja Habib telah mengatakan bahawa Rasulullah SAW mesti memberitahu rasa hatinya maka diapun berkata: ‘Wahai Muhammad, kamu masih ada satu syarat lagi.”

Belum sempat Habib hendak berkata maka baginda Rasululah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai dua tangan, tidak mempunyai dua kaki dan dia juga tidak mempunyai dua mata dan sesungguhnya ketahuilah olehmu Allah SWT telah mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua matanya.”

Sebaik sahaja raja Habib mendengar dan meihat segala galanya maka dia pun berkata: “Wahai ahli Makkah, tidak ada kufur sesudah iman dan tidak ada keraguan sesudah yakin, oleh itu ketahuilah oleh kamu sekelian bahawa sesungguhnya aku bersaksi, Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang satu dan tidak ada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan utusan-Nya.”

Raja Habib dan semua bala tenteranya masuk Islam. Kemarahan Abu Jahal meluap-luap dan dia berkata: “Wahai tuan raja, apakah tuan percaya kepada ahli syihir ini sehingga syihir itu telah mempersonakan tuan.”

Raja Habib tidak menghiraukan kata-kata Abu Jahal, sebaliknya raja Habib kembali ke negerinya Syam. Apabila raja Habib masuk ke dalam istananya dia disambut oleh anak perempuanya dengan mengucap: “Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu” (Saya bersaksi bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan AlIah dan saya bersaksi bahawa Muhammad itu adalah pesuruhNya dan utusanNya).

Raja Habib tercengang dengan kalimah yang diucapkan oleh anaknya maka dia pun berkata: “Wahai anakku, siapakah yang mengajarkan kepada kamu kalimah ini?”

Berkata anak raja Habib: “Sebenarnya sewaktu saya tidur, telah datang seorang lelaki lalu berkata kepada saya: “Sesunguhnya ayah kamu telah masuk Islam, kalau kamu mahu masuk Islam maka aku kembalikan segala anggota kamu dengan baik.” Setelah itu saya pun tidur dan pagi ini diri saya tidak ada yang

kurang seperti yang ayah lihat sekarang”

Kemudian raja Habib bersyukur sujud kepada Allah SWT agar nikmat iman dan bertambahlah keyakinan. Setelah itu raja Habib mengumpulkan emas, perak dan kain lalu dinaikkan atas lima ekor unta berserta dengan beberapa orang hamba

dikirimkan kepada Rasulullah SAW.

Ketika rombongan yang membawa segala hadiah dari raja Habib itu sampai dekat kota Makkah, tiba-tiba muncul Abu Jahal bersama kuncu-kuncunya lalu berkata: “Kamu semua milik siapa?”

Berkata rombongan itu: “Kami semua ini milik raja Habib bin Ibnu Malik dan kami hendak pergi pada Rasullulah SAW.”

Sebaik sahaja Abu Jahal mendengar jawapan dari rombongan itu maka dia cuba merampas semua barang-barang yang bawa oleh rombongan itu, oleh kerana rombongan itu enggan menyerahkan barang-barang tersebut maka berlakulah pergaduhan antara kedua belah pihak. Apabila berlaku peperangan diantara kedua belah pihak maka berkumpullah penduduk kota Makkah dan datang bersama mereka Rasulullah SAW.

Melihat akan kedatangan orang ramai maka berkata rombongan diraja itu: “Kesemua barang yang kami bawa ini adalah milik raja Habib, dan raja Habib berhajat untuk rnenghadiahkan kesemua barang ini kepada Rasulullah SAW.”

Abu Jahal berkata: “Raja Habib menghadiahkan kesemua harang ini kepada saya.”

Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Wahai penduduk Makkah, adakah kamu semua suka kalau aku mencadangkan sesuatu?”

Berkata penduduk Makkah: “Ya, kami setuju.”

Bersabda Rasulullah SAW: “Kita hendaklah memutuskan percakapan unta ini, untuk siapakah sebenarnya harta ini.

Berkata Abu Jahal: “Kita tentukan perkara ini esok pagi.”

Setelah mendapat persetujuan dari Rasulullah SAW untuk ditunda pada esok hari maka Abu Jahal pun balik dan terus pergi kepada berhala-berhala yang disembahnya, dia pun memberi beberapa korban kepada berhala-berhala mereka dan memohon pertolongan pada berhala mereka sehingga pagi.

Apabila waktu yang dijanji telah tiba maka ramailah penduduk kota Makkah datang untuk melihat keputusan pengadilan. Rasulullah SAW datang bersama bapa saudara baginda danAbu Jahal bersama kuncu-kuncunya. Sebaik sahaja Abu Jahal sampai maka dia pun terus mengelilingi unta itu dengan berkata: “Berkatalah unta-unta semua atas nama Lata, Uzza dan Manata.” Setelah Abu Jahal berkata demikian sekian lama sehingga matahari telah tinggi, namum unta-unta itu tidak berkata apa-apa.

Maka berkata penduduk kota Makkah: ‘Wahai Abu Jahal, cukuplah apa yang kamu buat itu, sekarang giliran Muhamad pula untuk melakukannya.”

Rasulullah SAW pun menghampiri unta-unta tersebut dengan berkata: ‘Wahai unta makhluk Allah, demi ciptaan Allah berkatalah kamu dengan kekuasaan Allah.”

Setelah Rasulullah SAW berkata demikian maka bangunlah salah satu dari lima ekor unta lalu berkata: “Wahai ahli kota Makkah, kami semua ini adalah hadiah raja Habib bin Ibnu Malik untuk dipersembahkan kepada Rasulullah SAW.”

Sebaik sahaja unta itu berkata demikian maka RasulullahSAW pun menarik unta-unta tersebut berserta dengan barang-barang yang dibawanya ke gunung Qubais, kemudian Rasulullah SAW mengeluarkan semua emas dan perak yang

ada di atas unta lalu dikumpulkan sehingga menjadi bukit lalu berkata: “Wahai emas dan perak, hendaklah kamu semua menjadi pasir.”

Kemudian dengan sekejap sahaja kesemua emas dan perak itu menjadi bukit sehingga sekarang.

sumber http://sangpanglipulara.blogspot.com/2009/12/jibril-12000-malaikat-menemui.html
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Lokasi: Tanjung Unggat, Bukit Bestari, Tanjung Pinang City, Riau Islands, Indonesia
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners
Widget Animasi

Labels

Beranda (2)

Blog Archive

  • ▼  2014 (2)
    • ▼  Maret (1)
      • Masalah Seputar Wudhu Bagi Muslimah
    • ►  Februari (1)
      • Jibril & 12,000 Malaikat menemui Rasulullah di Buk...

AnekaPaket.BlogSpot.Com

Followers

 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com